Showing posts with label Grobogan. Show all posts
Showing posts with label Grobogan. Show all posts

Wednesday, March 10, 2010

Wisata Alam(i) Grobogan

Anda yang belum merencanakan liburan Tahun ini ada baiknya menyimak tulisan ini. 

Apa saja yang bisa anda kunjungi?
1. Api Abadi Mrapen
Jujur saja kalau anda baru mendengar atau membaca ini patut diduga anda ga punya tivi dan jarang baca koran..haha... Api Abadi Mrapen sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang Indonesia karena setiap Pekan Olahraga Nasional obor PON dan hari Raya Waisak apinya disulut dari sini. Wisata ini juga menjadi wisata edukasi kepada putra-putri anda untuk mengenalkan sebuah fenomena alam yang jarang-jarang di muka bumi ini, yakni sebuah sumber api yang terus menyala meski hujan atau banjir sekalipun..
2. Bledug Kuwu
Jauh sebelum muncul semburan Lumpur Lapindo di Grobogan sudah ada semburan serupa yang muncul ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Anehnya semburan lumpur tersebut tidak menenggelamkan Grobogan hingga kini. Semburan lumpur yang mengandung garam tersebut dimanfaatkan warga sekitar untuk membuat garam. Jadi bayangkan Grobogan yang kagak punya pantai adalah salah satu penghasil garam..
3. Kedung Ombo
Ni waduk (terbesar kedua setelah waduk Gajah Mungkur di Wonogiri) sebagian masuk wilayah Boyolali sebagian masuk wilayah Grobogan. Anda yang hobi mancing ini adalah tujuan wisata yang tepat. Gabungan wisata hutan dan air yang subhanallah pokoke..

Lokasi wisata lain di Grobogan disertai gambar dan keterangan silakan klik disini

Mengapa ke Grobogan?
Jalurnya sangat mudah. Yang mau murah meriah bisa pakai kereta api. Grobogan dilalui rel kereta api jalur utara, namun Grobogan juga menjadi lintasan jalur kereta api utara ke jalur kereta api selatan dan sebaliknya.. Jadi ga perlu kuatir untuk datang ke Grobogan dengan murah meriah..
Rute: Dari Stasiun Pasar Senen  naik Tawang Jaya berangkat jam 21.30, tiket Rp.33.500, Turun di Stasiun Poncol jam 7 pagi, nyambung kereta yang ke Bojonegoro bilang ke penjual tiket turun di Gubug, harga tiket Rp.5000., berangkat jam 08.55.. Tiba di stasiun Gubug turun lalu tanya ke orang-orang disitu rute ke Api Abadi Mrapen..

Dah ya kalau nyasar jangan malu tanya aja Pak Polisi :)

Monday, February 22, 2010

Rustono, "King of Tempe" Jepang dari Grobogan


Perjalanan dalam udara dingin musim gugur ke daerah pegunungan di Katsuragawa yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kyoto adalah perjalanan yang menyajikan keindahan alam Jepang.

Jalan menanjak berliku dihiasi pepohonan momiji yang daunnya mulai memerah cerah di sepanjang jalan. Kabut meliputi puncak-puncak gunung dan hutan pinus lalu berakhir di sebuah lembah hijau. Rumah tradisional Jepang beratap rumbia tebal masih tampak di sana-sini dengan tamannya yang khas seakan bersatu dengan alam. Itulah awal perjumpaan saya dengan Rustono (41), sang Raja Tempe, sebagaimana teman-teman Jepang menyebutnya.

Di kawasan desa yang indah inilah konotasi yang menyepelekan tempe, seperti sebutan bangsa tempe atau mental tempe, sirna. Dari sinilah tempe mulai dikenal dan merambah hampir ke seluruh Jepang. Kemasan seberat 200 gram dengan label Rusto’s Tempeh bergambar ilustrasi suasana kehidupan kampung di Jawa tersebar di berbagai toko swalayan di Jepang.

Sebuah rumah tradisional Jepang, cagar budaya yang telah berusia dua abad, adalah tempat perjanjian saya bertemu dengan Rustono. Ketika kaki mulai melangkah memasuki gerbang kayu di halaman berpagar bambu, terdengar tiupan saksofon sopran yang mendendangkan lagu ”Going Home” dari Kenny G.

Rupanya sang raja sedang asyik melantunkan lagu penuh kerinduan yang menghanyutkan itu dengan duduk santai di batu besar di tengah taman di bawah rindangnya pohon momiji, ditingkah suara gemercik sungai jernih yang membelah desa, ditemani sang istri di sampingnya.

Semangat dari kerinduan

”Kampung halaman di tanah kelahiran memang selalu mendatangkan rindu,” Rustono menjelaskan ketika ditanya tentang lagu favoritnya itu. ”Dan berdendang dengan tiupan saksofon adalah alunan suara jiwa paling dalam,” tambahnya.

Kerinduan akan tanah kelahiran di sebuah kota kecil Grobogan, nun jauh di pedalaman Jawa Tengah dengan hamparan sawah dan hutan jati, rupanya masih saja mengusik Rustono meskipun sudah 13 tahun dia menetap di Jepang.

Bagi Rustono yang alumnus Akademi Perhotelan Sahid (masuk tahun 1987), kerinduan tersebut bukanlah bernuansa sendu berlarut-larut, melainkan pembawa semangat menentukan keputusan jalan hidup.

Tahun 1997, setelah enam tahun bekerja di Hotel Sahid Yogyakarta, perubahan jalan hidup mulai menunjukkan arahnya. Ketika sebuah grup wisatawan Jepang berkunjung ke Yogya, seorang bidadari dari Negeri Matahari Terbit, Tsuruko Kuzumoto, yang tinggi semampai berkulit kuning langsat menambat hati Rustono. Dan rupanya dia tidak bertepuk sebelah tangan. Tahun itu juga berangkatlah Rustono menyusul ke Jepang dan mulai menempuh hidup barunya di Kyoto.

Berbagai pekerjaan pernah dia lakukan. Dari bekerja di perusahaan roti sampai ke perusahaan sayur-mayur. Di situ Rustono banyak memerhatikan etos kerja karyawan Jepang. Selain penuh tanggung jawab, mereka juga berupaya mencapai target dan ikut serta dalam menjaga kualitas produksi. Pun Pemerintah Jepang sangat teliti dengan secara periodik memeriksa kualitas produksi, meninjau perusahaan, sampai memerhatikan kebersihan ruangan, termasuk peralatan dan meja kerja.

Menurut pengamatan Rustono, makanan adalah kebutuhan paling pokok kehidupan manusia. Itu sebabnya mengapa segala bentuk makanan diproduksi di Jepang dan industrinya sangat maju. Terbetik dalam pikiran Rustono, kenapa tidak mencoba membuka usaha makanan yang belum ada di Jepang. Inspirasinya datang setelah mengenal nato, sebangsa makanan dari kedelai yang rasanya sangat khas untuk lidah Jepang.

Jadilah dia mencoba membuat tempe dengan sedikit pengetahuan yang pernah dia kenal. Selama empat bulan dia berkutat mencoba membuat tempe, dengan ragi dari Indonesia dan kedelai Jepang, tetapi selalu gagal. Hingga kemudian dengan menggunakan air dari sumber mata air di kediaman mertua, dia berhasil membuat tempe.

Perjalanan panjang

Jalan untuk mencapai keberhasilan usaha yang dia tempuh sangatlah panjang dan terjal. Meskipun berhasil dalam percobaan membuat tempe, dia belum yakin benar. Pastilah itu bukan hanya karena menggunakan air asli dari mata air langsung.

Setelah anak pertamanya, Noemi Kuzumoto, berusia tiga tahun, dengan izin istrinya Rustono kembali ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat tempe kepada 60 perajin tempe di seluruh Jawa.

Beberapa perajin memang ada yang tidak sepenuhnya memberi rahasia pembuatan tempe, tetapi banyak hal yang bisa dia serap dari pengalaman para perajin tempe di Jawa Tengah. Misalnya, kenapa tempe bisa lebih terasa gurih, bagaimana hasilnya tempe yang dibungkus dengan daun bambu atau daun pisang, ataupun dengan plastik, dan bagaimana bisa menghasilkan fermentasi tempe dengan baik.

Yang kemudian tak kalah berat adalah memperoleh izin produksi di Jepang. Dia harus melalui penelitian dan tes di laboratorium, hingga harus memenuhi kesanggupan bertanggung jawab atas kualitas dan kandungan bahan produksi sesuai dengan yang tertera di kemasan bahwa kandungan gizi tempe kedelai setara dan kandungan gizi daging, termasuk mematuhi peraturan daur ulang kemasan.

Kendala cukup berat yang juga dapat dia lalui adalah soal menghadapi iklim alam di Jepang. Fermentasi tempe hanya bisa berhasil dalam cuaca kelembaban 60 persen hingga 90 persen, yang tentu saja tidak masalah di Indonesia. Di Jepang yang mempunyai empat musim, mempunyai kelembaban udara yang dibutuhkan tempe hanya pada musim panas. Tetapi, lewat penelitian kecil-kecilan dan telaten, hasilnya sangat besar. Dia bisa mengatur kelembaban pada segala musim di dalam ruangan produksi.

Peralatan produksi juga hasil inovasi Rustono sendiri. Alat pencuci kedelai dia modifikasi dari bekas mesin pencuci cumi-cumi yang dia dapat dari perusahaan perikanan. Begitu pula untuk pengemasan, dia datangkan mesin bikinan Bantul dan Surabaya.

The King of Tempe

Meskipun julukan ini hanya gurauan teman-teman sejawatnya, rasanya memang tak ada yang salah. Kini kapasitas produksi Rustono setiap lima hari bisa mencapai 16.000 bungkus tempe dengan kemasan 200 gram. Untuk mendukung produksi, dia mengadakan kontrak kerja sama dengan petani kedelai di Nagahama, kawasan Shiga.

Dari peta penyebaran Rusto’s Tempeh yang tertera di ruang kerjanya, terlihat konsumennya tersebar di kota-kota hampir seluruh Jepang. Selain masyarakat Indonesia di Jepang dan masyarakat Jepang sendiri, konsumennya juga meliputi perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah, hingga rumah sakit di Fukuoka.

Memang usahanya berawal dari skala kecil dengan pemasaran dari pintu ke pintu. Rumah produksi dia bangun sendiri tanpa tukang bangunan dan tanpa pemikiran arsitektural, tetapi hanya dengan intuisi yang mirip intuisi seniman. Dan dari usaha rumahan itu sekarang Rustono mencapai taraf pembangunan pabrik tempe di kawasan pinggir hutan yang bermata air, di atas lahan 1.000 meter persegi.

Penghargaan

Di Jepang sudah banyak buku mengupas tentang tempe. Di antaranya yang terkenal adalah The Book of Tempeh, tulisan William Shurtleft dan Akiko Aoujaga. Buku besar ini lengkap dengan uraian dan ilustrasi menarik tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia, terutama Jawa.

Ada juga buku terbitan Asosiasi Tempe di Jepang yang dikelola para profesor dan ahli gizi. Asosiasi ini mengadakan penelitian dan setiap tahun mengadakan seminar tentang tempe. Salah satu kajiannya adalah kandungan gizi tempe tak kalah dari daging sapi.

Berbagai restoran vegetarian di Jepang banyak menyajikan olahan tempe dengan berbagai bentuk olahan Jepang, seperti misoshiru tempe dan tempura tempe. Yang paling terkenal adalah burger tempe.

Mereka memperkenalkan tempe dengan semboyan ”Makanan enak belum tentu menyehatkan, makanan tidak enak bisa menyehatkan. Tetapi, makanan enak dan menyehatkan adalah tempe!” Terberitakan pula sebuah perusahaan kosmetik memproduksi bahan kecantikan dengan jamur hasil fermentasi tempe ke dalam kapsul yang konon bisa menghaluskan kulit.

Soal hak paten yang pernah jadi pergunjingan di negara kita bahwa tempe diklaim Jepang, Rustono menjelaskan, ”Ah, itu kesalahpahaman. Bagaimana kita mematenkan tempe yang semua orang sampai di Amerika pun tahu tempe adalah makanan asli Indonesia. Apakah Jepang juga akan mematenkan sashimi atau sushi? Mereka hanya mematenkan olahan burgernya, bukan tempenya.”

Ini tulisan murni copy paste tanpa edit dari kaskus.. ni threadnya gan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3438674

Sunday, November 22, 2009

Grobogan Dimana Ya? Untirta?

Tahukah Anda?

Melekat pada 2 hal yang tidak populer, tidak terkenal dan tidak keren memang makan hati kadang. Di awal kuliah dulu (ga mau nyebutin tahun...malu..hehe) setiap perkenalan dan saya bilang saya dari Grobogan, spontan dahi kawan-kawanku mengkerut sambil balik tanya "Grobogan itu dimana? Jawa Timur bukan?"...dll... Dan entah berapa banyak saya berkenalan sebanyak itu pula saya mempromosikan my hometown (halah..) GROBOGAN..sedikit sekali yang sudah tahu dimana GROBOGAN itu tepatnya. Itu yang pertama. Yang kedua (boleh dibilang lebih pahit) yaitu saat bertemu teman-teman di kampung lantas bertanya "Emm Untirta? Dimana ya? Negeri bukan?"..dll...


Supaya lebih jelas begini ceritanya:
1. Sebelum masuk Untirta
Setelah lulus SMA seperti kebanyakan orang saya mengikuti SPMB (nama waktu itu), Ujian masuk STAN dan UM UGM..Semuanya tidak ada yang lolos. Saya kemudian putuskan untuk nganggur dulu, tidak masuk swasta seperti kebanyakan orang. Selama menganggur setahun saya 6 bulan ikut sepupu saya membuat tempe kripik, dimana pada bulan-bulan pertama jari kiri saya sering teriris. Empat bulan berikutnya saya dirumah mengasuh dua adik lelaki (umur 4 dan 2 tahun). Saya benar-benar menggantikan peran ibu setiap pagi selama 4 bulan itu. Saya bahkan masih ingat urutannya, bakda subuh, membuat api di dapur (pakai kayu), mencuci beras lalu menanaknya, menunggu nasi masak sambil mencuci piring, menyapu lantai, bersihin kandang kambing, bangunin 2 adik yang gede (untuk sekolah), bikin lauk, rendam baju kotor, bangunin 2 adik kecil, mandiin mereka, handukin, minyak kayu putih, bedakin, ganti baju, nyuapin, suruh mereka main, nyuci baju. Begitulah.. Kemana ibu saya? ke pasar. (Mungkin agak melo tapi saya menangis ketika nulis bagian ini)..4 bulan yang waktu itu saya rasa paling berat sekarang saya rasa menjadi bagian paling indah dalam hidup saya..Paling berat karena saya tidak punya gambaran yang pasti untuk masa depan, satu-satunya yang saya lakukan untuk masa depan saat itu hanyalah berlatih menyelesaikan soal2 SPMB (saya menyelesaikan lebih dari seribu soal Fisika. Paling indah karena 4 bulan itulah momen kedekatan saya dengan adik2 saya dan menjadi saat saya merasa berarti buat mereka dan keluarga. Karena pada fasa-fasa berikutnya saya lebih banyak merepotkan dan membuat susah.




2. Menjelang masuk Untirta
Saya minta ijin ibu saya untuk masuk bimbingan belajar. Sebenarnya sudah telat karena bimbingan intensif SPMB sudah dimulai dimana-mana. Saya masuk bimbel Nurul Ilmi. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan pada masa ini. Yang jelas saya tidak lagi di rumah. Saya kost di Purwodadi. 


3. Masuk Untirta
Saya tahu Untirta dari mas Edi (my big beloved brother) yang saat itu ditugaskan di Labuan Pandeglang. Saya ikut ujian SPMB di Semarang dan ikut yang IPC. Teknik Industri adalah pilihan pertama saya, dan diterima. Saat membaca koran bahwa diterima saya bingung sendiri. Tidak lain adalah bingung mencari berkas apa saja yang harus saya bawa untuk registrasi. Ga lucu kan kalau ada yang lupa atau ga lengkap setelah jauh2 datang. Saya akses situsnya (waktu itu www.untirta.net)ga ada keterangan dan (sumpah) situsnya itu jelek banget, informasinya basi semua. Saya telepon pada jam kerja ga nyambung. Saya kirim faks ga tahu sampai apa ga. Akhirnya saya memilih jalan saya sendiri. Saya mengumpulkan berkas2 yang dibutuhkan sama dengan kampus2 lokal Jateng. Disinilah uniknya. Salah satu berkas yang saya bawa adalah SKCK. Ketika registrasi di Untirta ternyata ga ada syarat SKCK. Tapi saya serahkan SKCK saya. Keesokan harinya ada pengumuman tambahan harus melampirkan SKCK.. Haha banyak yang balik ke kampung mengurusnya..



4. Groby
Di Untirta ini kemudian saya mendapat gelar baru. GROBY.. Saya sudah tak ingat siapa memulai gelar itu. Yang jelas itu terkait dengan asal saya yang tidak populer GROBOGAN. Bahkan ketika ada mahasiswa baru bernama Ahmad Zainudin (Teknik Mesin '06) dari GROBOGAN juga mendapat gelar yang sama. Groby.. Groby ini bahkan lebih pouler dari nama asli saya atau Zein.


5. Menjelang lulus
Malas ah


6. Grobogan dimana?
Langsung saja deh..situs Pemda klik disni.. Sejarah, geografis dll klik disini 


Gitu aja deh... ga penting? yo ben..


memriahkan :

Kartu-Pulsaku.com Solusi Bisnis Online Anda